Medan Magnet MEDAN [Part 2-end]

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
Bismillaahirrahmaanirrahiim

Wisata Kuliner
Horas..Kembali lagi ke rekaman menarik perjalanan An di kota ‘Durian’ ini. Kenapa An sebut ‘Durian’? Karena warganya sangat lihai dalam mengolah durian menjadi aneka produk makanan dan minuman. Jenis-jenis olahan durian untuk minuman antara lain: dawet sumsum durian, kolak pulut durian, pulut durian, kolak pisang durian, pokat durian, jagung durian, es campur durian, dan teler durian. Wuih, bakalan ngiler, deh, buat para pecinta durian. Surga olahan durian ada di sini, lho. Kalau mau roti/ pandcake durian juga ada. Namun perlu dijaga kemasannya agar tak cepat meleleh. Katanya sih enak,  namun waktu bertahannya sebentar  (maks.12 jam) dan harganya relatif mahal. So, An ga jadi mencoba roti durian. Alhasil, An cuma beli buah tangan roti Meranti Tiga Rasa dan Bika Ambon. Belinya di tempat khusus jualan oleh-oleh makanan, teman. Toko roti Meranti sangat dekat dengan hotel An menginap, sedangkan pandcake dan bika ambon dibeli di lokasi yang lumayan jauh dari hotel. An lupa nama daerahnya karena melewati arus satu arah yang membingungkan.
Sekilas info: Bika Ambon “Zulaikha” harga rasa original; 23 ribu, pandan; 25 ribu. Bolu Meranti Tiga Rasa; 75 ribu.
Sekilas info: Bika Ambon “Zulaikha” harga rasa original; 23 ribu, pandan; 25 ribu. Bolu Meranti Tiga Rasa; 75 ribu.
Saat kakak pertama An tinggal di Medan, An paling kangen kalo dibelikan Bika Ambon saat beliau pulang ke rumah. An heran, kenapa bernama Bika Ambon, yah? Padahal jelas-jelas daerahnya di Medan, kenapa Bika bernama Ambon? Hoho.. Lagi-lagi An lupa wawancara ma penjual rotinya. Selain original, bika juga memiliki rasa yang menggiurkan; original, pandan, keju, dan coklat. Trus, kalo Bolu Meranti itu hasil rekomendasi dari teman Semarang yang pernah menjelajah di Medan. Rasanya beraneka rupa namun hal yang paling penting adalah adalah ada logo kehalalannya di dalamnya. Tak ingin merugi, kan, kalo mengkonsumsi barang yang haram? Adonan kue dan bolu bisa saja dimanipulasi atau diabaikan ‘kehalalannya’ oleh orang-orang yang kurang paham. So, carilah toko yang aman dan terjamin sertifikasi kehalalannya :)
kolak pulut durian dan mie Aceh
kolak pulut durian dan mie Aceh
Selain promosi tentang produk olahan durian, An juga pengin share tentang cita rasa masakan orang Medan. Tak kalah dengan orang Minang, bumbu masakan orang Medan sangat kental dengan kuah pedas dan berlemak tinggi. Hyum, cita rasa yang cukup kontras dengan lidah orang Jawa. Jangan harap, bisa menemukan masakan manis di sini, yah.. :) Empat hari mengkonsumsi makanan di sini begitu mual. Haha.. Alhamdulillah, karena An suka pedas jadi tak begitu masalah. An imbangi saja dengan mengkonsumsi sayur dan buah yang mengandung kaya serat. Hal ini penting untuk kelancaran metabolisme pencernaan :’)

Karena berdekatan dengan Aceh, tak heran kota Medan juga banyak dijumpai ‘Mie Aceh’. Bentuk pasta mienya relatif lebih lebar dan cukup pedas. Silakan pilih, mau mie Aceh goreng, basah, atau berkuah. Mie Aceh ini menjadi santapan malam pertama (05/12) An di kota Medan. Siangnya, An diajak ke rumah mbak Rini Selly untuk mencicipi rendang daging dan ayam pedas. Btw, harga daging sapi di pasaran melonjak tinggi karena persediaan daging local menipis. Hal ini menjadikan ironi bagi negeri kita sendiri. Katanya negeri kita kaya SDA, tapi kok malah impor ke negeri orang lain, yah? Hyum-hyum, jadi membuat banyak renungan.

Malam kedua (06/12), An mencoba hidangan sate ayam Padang bersama jahe susu ‘Bandrek’.  Kombinasi menu malam itu sangat spesial dan An sangat menikmatinya. An ditawari dr.Joan untuk mencicipi sate kerang ala Medan. Ukurannya sangat besar dan rasanya manis pedas.
dari menu breakfast hingga dinner :)
dari menu breakfast hingga dinner :)
Malam terakhir (07/12), An bingung mau dinner apa. Akhirnya diajak lagi ma mbak Rini Selly berkeliling kota. List pertama adalah Istana Maemon yang masih satu kompleks dengan Masjid Raya Al Mashun. Aksi narsisme dan rekaman jejak tak lupa diabadikan oleh kamera pinjaman An. Istana megah ini menyimpan banyak sejarah Sultan Deli dan Putri Hijau. Kami hanya sempat singgah di halaman luar dan mengamati sisa peninggalan moncong meriam yang konon memiliki daya mistis. Wuih, penasaran, yah?


moncong meriam yang berusia ratusan tahun
moncong meriam yang berusia ratusan tahun
welcome to Istana Raja Deli [Maemon]
welcome to Istana Sultan Mamoen Al Rasyid
Berhubung senja semakin larut dan langit sore mulai kemeraham, kami langsung meluncur ke masjid Agung Kota Medan untuk melaksanakan sholat Maghrib. Mesjid berkubah emas ini terletak di samping kantor Gurbernur Sumatera Utara, bekas tempat unjuk rasa buruh (05/12). Subhanallah, lagi-lagi An terpukau ma kemegahan menara dan isi dari masjid Agung Medan. Lokasinya sangat strategis dan sangat ramai dikunjungi. Di bagian belakang masjid, ada jalan tikus untuk menuju pusat perbelanjaan mal. Di sana An mencari menu makanan yang pas untuk selera An. Sebelumnya, ditawari mie kocok ala Medan tapi kuahnya kurang cocok dengan lidah An. Kemarin sudah sempat mencicipi sedikit dari santapan dr.Joan. Akhirnya, kami putuskan untuk pergi ke Plaza Medan. Barangkali ada food court yang cocok dengan selera An.
Masjid Agung Medan
Masjid Agung Medan
Di sana, mbak Rini menawari mie Balap [Mie Bakso Lapangan Tembak]. Tapi An belum mau untuk mengkonsumsi bakso dan mie ayam. Hihi.. Banyak pilihan yang menggiurkan tapi kenapa An pilih di Solaria, yah? Pengen juga ke D’Cost tapi belum menemukan di mall terbesar kota Medan ini. Akhirnya, An pilih Solaria dengan pertimbangan porsinya lebih banyak dan menunya lebih kompleks. Aih, terlalu banyak memilih, yah, padahal perut udah memanggil-manggil untuk diberi asupan. Maklum, hari terakhir workshop telah banyak energi tersita. Seusai dinner bareng, kami putuskan untuk menunaikan sholat isya’ di mall. Hyum, ternyata mushola sudah tutup, saudara-saudara. An heran, mushola mal tutup lebih awal (sekitar jam 8-an). Dalam perjalanan ke parkiran, kami berfoto ria bersama Doraemon dan Mr. Bean yang nampang di etalase toko.
antara dora dan bean  :)
antara dora dan bean :)
Ragam Suku di Medan
“Wahai manusia! Sungguh, Kami telah Menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Alloh ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Alloh Maha Mengetahui, Maha Teliti.” [Al Hujurat: 13]

Penduduk Medan terdiri dari aneka suku dan adat-istiadat yang khas, kawan. Mereka melebur menjadi satu dan bertoleransi terhadap satu dan lainnya. Ada yang suku Deli asli, suku Melayu, suku Batak, suku Karo, suku Jawa, dan apalagi yah. Marganya disesuaikan dengan nama sukunya. Masih ingat dengan klasifikasi tumbuhan? Yap! Kira-kira seperti itu. Tiap marga mencerminkan suku (jenis) tertentu. Misalnya, Tarigan, Tambonan, Tagor, Panjaitan, Perangin-Angin, dsb. Kecuali untuk suku Melayu, mereka tidak memakai embel-embel marga di belakang namanya. Hal ini An ketahui saat mengklasifikasi nama mbak Rini Selly, “Mbak, namamu koq ga ada nama marganya, yah?”

“Iya, dek. Sukuku masuk Melayu, jadi tanpa marga di belakang,” ujar mbak Rini Selly, temenku yang asli Medan ini tersenyum khas.

Meski dengan logat keras dan nada yang tinggi, penduduk di Medan pada umumnya memiliki senyum yang khas, mencirikan keramahan. Mereka begitu mudah perhatian atau menyapa pada orang-orang sekitar. Tapi ada pula yang berwajah masam dan sok acuh. Yap! Sepandai-pandainya saja berinteraksi dengan mereka. Hal yang An kurang sukai kebiasaan penduduk lelaki di sana adalah mudah menghisap rokok tanpa mengenal tempat (bahkan, di ruang AC sekalipun). Hampir di segala penjuru, banyak kaum Adam yang merokok tanpa memperhatikan kehadiran wanita dan anak-anak di hadapan mereka. Hal ini menjadi pemandangan menyedihkan, saat melihat gerombolan anak-anak cowok yang sudah mulai kebiasaan merokok di tempat umum tanpa rasa malu.

Kunjungan Univ
Seperti di Semarang, di kota Medan memiliki dua Universitas Negeri yang cukup terpandang. Alhamdulillah, An bisa singgah ke Universitas Sumatera Utara (USU) dan Universitas Negeri Medan (UNIMED). Barakallah, untuk mbak Rini Selly yang akan mengajar di tempat asalnya di UNIMED. Siip..semoga menjadi dosen teladan, ya, Bu! :) 
Digital Library UNIMED dan Gerbang USU
Digital Library UNIMED dan Gerbang USU
Ceramah ‘KKN’
Berita tak sedap mengenai kasus KKN mulai menjamur di berbagai media, termasuk Koran pagi hari terakhir An di Medan. Berita keluarnya Andi sebagai Menpora beriringan dengan keluarnya (check out) An di hotel. An hanya memiliki waktu singkat untuk mencapai bandara. Jam dua belas pesawat akan melandas, tapi ada satu hal yang tak ingin An lewatkan; An ingin naek bentor sebelum kepulangan. Setelah bernegosiasi dengan tukang bentor tentang harga ongkos (12ribu), An berpamitan dengan mbak Rini Selly untuk berpisah sejenak.

” Insya Alloh, Alloh akan mempertemukan kita kembali, mbak!” harapan An dalam hati. Yap, meski belum kesampaian ke Danau Toba, perasaan An berkeliling ke Kota Medan sudah cukup puas.
beyung vs bentor
beyung vs bentor
Kemudian An menuju bentor yang dimaksud. Ternyata, bukan bentor tetapi beyung (becak dayung). Hoho..An salah liat dari arah belakang. Akankah An terlambat ke Bandara? An sudah terlanjur bilang mengiyakan, masa’ harus membatalkan begitu saja? Insya Alloh masih ada waktu 30 menit yang tersisa. Detik demi detik terasa begitu berharga. Beyung memang berjalan agak lambat dari bentor karena dioperasikan dengan tenaga manual manusia. An saksikan kekuatan Pak Beyung dengan seksama. Kayuhannya sangat lincah dan piawai. Selama dua puluh tahun Bapak itu mengambil profesi Beyung sebagai mata pencaharian. Beliau berpandangan bahwa meskipun berpenghasilan kecil, beliau menganut prinsip untuk berkerja dengan cara yang halal. Meskipun jenjang pendidikannya amat rendah (belum tamat sekolah dasar) tapi beliau memegang prinsip hidup yang mulia. Subhanallah, yah. Dalam perjalanan, beliau juga menyampaikan tausiyah yang cukup mengesankan, yaitu tentang makna sholat untuk orang beriman. Beliau mengajak berdiskusi dan menyampaikan pendapat yang cukup mendalam.

Bapak yang asli Melayu ini berujar, “Seandainya orang-orang muslim mau melaksanakan sholat dengan sebaik-baiknya, maka tak ada orang yang berani melakukan kemungkaran, termasuk soal KKN. Sholat itu mencegah kemungkaran, jadi orang yang sholatnya ‘bener’ ga mungkin melakukan KKN, kan, mbak?” Aku mengiyakan pendapat Bapak Beyung ini. Pikiranku tak bisa berkosentrasi karena waktu perjalanan tinggal sepuluh menit menuju Bandara. Perjalanan terhenti lama akibat lampu merah yang berdurasi lama. Oleh karena itu, Bapak Beyung itu mengisi kekosongan dengan tausiyahnya, pengalaman hidupnya dan asal-usulnya. Namun sayang, An tak berani menanyakan nama beliau.

Akhirnya, dalam durasi setengah jam, Beyung sampai juga di Bandara. An hanya bisa diantar sampai di depan pintu gerbang bandara saja karena Beyung dilarang masuk kawasan Bandara. Untuk menuju terminal keberangkatan domestik, ternyata harus menempuh jarak yang jauh. An berpikir jika berjalan kaki, maka akan memperparah keterlambatan. Alhamdulillah, ada ojek-ojek Bandara yang beredar di kawasan Bandara. Meski akhirnya sedikit kecewa karena ojek bandara itu meminta bayaran yang berlebihan (10ribu). Ya sudahlah, dengan setengah hati An membayar ongkos ojek itu.
Detak jantung semakin berimpuls cepat dan An salah masuk bagian check in. An ga begitu teliti melihat nama loket penerbangan. Terpaksa harus mencari lagi. Sesampai ruang pemeriksaan, An cari lagi amplop yang berisi tiket penerbangan.

“Masya Alloh, koq ga ada tiketnya?”

Kepanikan An mulai bertambah dan keringat tangan membasahi, memaksa An untuk mencari di mana kertas tiket itu tersimpan. An koreksi lagi bagian depan tas yang merupakan tempat khusus tiket penerbangan. Ternyata, kertas tiket tersangkut di bagian agak dalam. Kekhawatiran mulai mereda dan An mengantri di loket check in dengan lancar. Selanjutnya, An berlari menuju gate pertama. Seperti adegan film saja, saat pemeran tokoh mengejar pesawat. Hehehe.. Akhirnya An menaiki bus shelter untuk mencapai pesawat GA. Alhamdulillah, rasa kelegaan mulai terisi penuh. An terseyum puas meski tergolong rombongan penumpang pesawat yang datang telat :)

Istana Biru
Perjalanan Medan – Jakarta memakan waktu yang cukup lama (sekitar 120 menit). Untuk mengisi kejenuhan penumpang, pesawat GA menyediakan layar monitor kecil yang berisi aneka hiburan. Di sana terdapat daftar film terbaik Indonesia beserta hiburan video menarik lainnya. An pilih channel film ‘Hapalan Sholat Delisa’ yang mengingatkan An tentang tragedi tsunami di Aceh pada tanggal 26 Des 2004 silam.

Banjir air mata membasahi tempat duduk An. Betapa tidak? Baru kali ini An menonton dan mengetahui kisah novel “Hapalan Sholat Delisa” karya Tere Liye untuk pertama kalinya. Sebuah novel lama yang sudah difilmkan namun An baru mengambil hikmahnya. Masya Alloh, inikah yang dinamakan menulis dengan ‘sepenuh hati’ sehingga memancarkan energi yang mendalam? Karya Darwis Tere Liye memang mencerminkan produk ‘Wiriterpreneurship’ yang nyata dan mengharu biru. Setelah novelnya best seller, karyanya lalu diangkat ke layar kaca. Pesan moralnya begitu menyentuh, hampir senada dengan novel Tere Liye yang kukhatamkan fajar sebelum kepulangan ke Semarang; “Moga Bunda Disayang Alloh”.
Bahasa film dan novel tak bisa disamakan dari soal dimensi imajinasinya. Biasanya, imajinasi novel lebih mendalam dan tak terbatas. Itulah sebabnya kadang pembaca belum merasa sreg apabila karya novel best seller difilmkan. Karena An belum pernah membaca novelnya, An tidak terjebak oleh dimensi imajinasi saat membaca novel.

An cukup puas dalam menyaksikan HDS ini. Begitu banyak pelajaran hikmah yang bisa dipetik (terlepas dari kontroversi pemain Delisa yang ternyata ‘Non-I’). Pelajaran sederhana tentang pentingnya sholat mengingatkan kata-kata petuah dari Bapak Beyung sebelumnya.

Bagaimana bentuk komunikasi dan interaksi kita terhadap Sang Pencipta? Apakah cinta yang dimiliki benar-benar diserahkan hanya karena-Nya? Di dalam istana biru, An merenungi kembali makna hikmah yang tersirat. Semoga tak ada kata terlambat untuk usaha mencintai Alloh dengan setulus hati :)
istana biru : Istana cinta milik-Nya :)
istana biru : Istana cinta milik-Nya :)
An Maharani Bluepen
25 Muharram 1434 H

Read Users' Comments (8)

8 Response to "Medan Magnet MEDAN [Part 2-end]"

  1. JeQ the ShadowZ Knight, on 9 Desember 2012 16.41 said:

    wuah, mbak..
    kalo masalah perokok, waduh...
    memang parah dah yg namanya perokok tuh...
    bukan cm di medan, hampir semua perokok tuh kayaknya gak tau sopan santun, gak taw tempat...

    untungnya, tiketnya tadi gak ilang yah...
    gak kebayang kalo beneran ilang...

    untuk film HDS, emank keren filmnya, bisa membuat siapa saja yg memiliki hati meneteskan air mata....

  2. An Maharani Bluepen, on 9 Desember 2012 23.05 said:

    iya, dek JeQ..bersyukurlah bagi insan yang tidak suka merokok ^^

    Alhamdulillah, sempat jadi sport jantung jugaa..hihi..akhirnya ketemu jugaa..

    iya, betul itu..penasaran untuk film kedua Tere Liye; Bidadari-Bidadari Syurga

  3. kikim'z zone, on 10 Desember 2012 14.24 said:

    jadi pingin kesana lagi.... ")

  4. An Maharani Bluepen, on 11 Desember 2012 06.07 said:

    ayo, mbak...pulang ke halaman Medan lagiii :D

  5. Syah Azis Nangin, on 12 Desember 2012 06.21 said:

    baca cerita ini sungguh mengasyikkan.. mengingatkanku pada kampung halaman.. kok ga bilang2 kalau mau ke Medan, Mb.. kan bisa mampir ke rumah.. he.. he..
    Baru kali ini aku dengar ada yang bilang medan kota durian,, tapi ia juga sich di sana memang banyak durian.. harganya juga lebih murah dibandingkan di jawa...
    Oya, tentang Bika Ambon setahuku kenapa bika AMbon, karena di sana pusat bika yang terkenal enak adanya di jalan Ambon.. seperti halnya Lumpia di Semarang yang terkenal di jalan Mataram, makanya dibilang Lumpia Mataram.
    Sayang ya belum nyampe ke Danau Toba. dan banyak tempat-tempat indah lainnya.. semoga nanti masih bisa ke Sana lagi. di medan memang banyak sekali daya tarik yang khas.. yang tidak ditemui di daerah lain..

  6. An Maharani Bluepen, on 12 Desember 2012 06.36 said:

    wah..........dapet info menarik langsung dari narasumbernya. Makasii banyak, mas Azis.... Iya, semoga suatu hari bisa menjelajah ke Danau Toba. Kabarnya rute ke sana memakan waktu lama dari Medan (tiga jam) trus medan jalannya juga berkelok-kelok dan perlu berhati-hati dalam memilih menu makanan di sana..

    siip..
    wish me luck ^_^

  7. Tuti Wartati (Aisyah Fathiyah), on 15 Desember 2012 17.07 said:

    wah sungguh perjalanan yang luar biasa ya An...senengnya sekalian tugas+silaturrahim+jalan2...mb aj yang org sumatera belum pernah ke Medan,kapan2 main juga ke Palembang ya tempat mb ^_^
    mb insyaAllah akhir desember mau ke Jogya, pengennya sekalian mampir ke Semarang t4 An...

  8. An Maharani Bluepen, on 21 Desember 2012 05.57 said:

    wah, senangnyaa...... :)tapi An tgl segitu masih di luar kota, mbak...Afwan, yah..An juga mau ketemuu

Posting Komentar

Thanks for reading
^________^

 
Free Website templateswww.seodesign.usFree Flash TemplatesRiad In FezFree joomla templatesAgence Web MarocMusic Videos OnlineFree Wordpress Themeswww.freethemes4all.comFree Blog TemplatesLast NewsFree CMS TemplatesFree CSS TemplatesSoccer Videos OnlineFree Wordpress ThemesFree CSS Templates Dreamweaver