Ketika Akhwat Harus Bekerja....

Subhanallah....Saya ikut merasakan kebahagiaan bersama sahabat akhwat yang sudah menerima pekerjaan yang diidamkan selama ini...Ya, rasa syukur tak terluapkan ketika harus ditempatkan bekerja di kota favoritnya dan memberikan kontribusi ilmu yang diperoleh selama pendidikan. Akhwat-akhwat yang lain, kakak kelas saya yang baru saja lulus, turut merasakan kebahagiaan yang sama, menjadi bagian dari abdi negara. Segala konsekuensi mereka hadapi saat harus berpetualang ke kota lain yg belum dikenal.

Seorang akhwat pasti memikirkan peta kehidupan selanjutnya ketika dia telah meninggalkan  bangku kuliah. Ia harus menghadapi pilihan; bekerja, melanjutkan studi, atau langsung menikah? Sahabat akhwatku memilih pilihan pertama. Hyum, dengan kemampuan yang dimilikinya, saya yakin dia mampu menjadi tenaga kesehatan yang profesional. Untuk urusan studi lanjut atau jodoh, ia punya perencanaan tersendiri.

Dalam tulisan Aisha Kariim (mom_child_muslim), menjelaskan tentang pemahaman tipikal wanita ketika harus menjalankan rumah tangga. Beliau menuturkan konsekuensi akhwat ketika harus menentukan pilihannya. Pada intinya, perlu adanya keseimbangan peran kedua pasangan dan memahami betul hak dan kewajiba suami dan isteri menurut Syar’i. Berikut uraian yang disampaikan oleh beliau:


Zaman ini, perempuan telah mendapat akses yang besar di dunia pendidikan dan pekerjaan. Tak bisa dipungkiri juga bahwa banyak perempuan yang mendapatkan hidayah lewat kajian di kampus-kampus. Bahkan beberapa jurusan didominasi oleh perempuan. Kenyataan ini seharusnya tak lagi mengherankan bagi ummat Muslim, karena jauh hari Rasulullah sudah mengingatkan tentang kedudukan wanita sebagai ibu : “Ummu Madrasatun”
Penelitian-penelitian psikologi dan pendidikan juga telah banyak memperlihatkan bahwa secara akademik, rata-rata anak-anak perempuan mengungguli laki-laki. Jadi, adalah sangat wajar apabila kemudian perempuan menempati kursi yang semakin banyak di perguruan tinggi dan sebagai konsekuensinya, mereka berkarir di berbagai bidang.
Masalahnya kemudian, saat menikah banyak para pria yang kemudian menginginkan isterinya di rumah, atau sebaliknya, lebih bangga kalau isterinya bekerja. Sebenarnya, mana yang lebih baik dan apa konsekuensinya?

Pahami Betul Hak dan Kewajiban Suami dan Isteri Menurut Syar’i
Ini yang pertama kali penting untuk dipahami. Telah banyak bahasan mengenai hal ini, dan tidak akan dibahas panjang lebar lagi. Seringkali, sebelum menikah, baik pria maupun wanita hanya melihat hal-hal yang ‘sudah wajar’ dan ‘menyenangkan hati’. Kerapkali kita tidak memahaminya secara keseluruhan. Tak satu dua keluarga yang beranggapan bahwa isteri sama sekali tidak boleh keluar rumah, juga tak perlu membantu mencari nafkah untuk keluarga, padahal  sebenarnya itu adalah sedekah isteri bagi suami.
Ada pula yang sangat mengejar materi dan gengsi hingga suatu hari isterinya merasa tertekan, atau anak-anak harus diperhatikan langsung, isteri tidak diperbolehkan berhenti bekerja, padahal suami-lah yang berkewajiban menafkahi isteri dan anak-anaknya dan isteri bagaimanapun adalah sosok yang lekat dengan anak-anak sejak dalam rahim. Kita harus memperhatikan aturan syar’I mengenai ini secara menyeluruh dan pastikan bahwa baik calon suami dan isteri memiliki kerangka berfikir yang sama.

1.     Memahami Akhawat ‘Rumahan’
Isteri cantik berdandan rapi menunggu di rumah, menyiapkan pakaian serasi untuk berangkat kerja, masakannya enak memanja lidah, sambutan hangat nan mesra usai lelah pulang bekerja. Siapa lelaki tak mau? Dan siapa perempuan yang tidak ingin bisa seperti itu.
Akhawat rumahan, yang kemudian mendedikasikan dirinya menjadi Ibu Rumah Tangga, atau Stay at Home Mom bisa dibagi menjadi dua jenis berdasarkan tujuannya berada di rumah. Yang pertama, adalah mereka yang memang menyenangi pekerjaan rumah tangga, sedangkan yang kedua adalah mereka yang ingin bersama anak-anaknya untuk mendidik dan mengamati tumbuh kembang mereka dari waktu ke waktu.

a.        Menaruh minat dan bakat terhadap pekerjaan rumah tangga

Akhwat yang memang menyenangi segala aktivitas rumah tangga akan dengan senang hati mempelajari dan mengerjakan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga. Sebut saja, memasak dengan senang hati, menjahit dengan gembira, membersihkan rumah dengan rasa puas diri, dan lain-lain. Pekerjaan rumah adalah pengabdian sekaligus kepuasannya. Suami juga akan merasakan asyiknya punya teman seperti ini.
Apabila suami mendapati isteri yang demikian, maka syukurilah dengan cara menyediakan perangkat rumah yang mendukung kesenangannya itu. Jangan pula lupa untuk menyediakan akses bagi mereka bagi pendidikan dan pengembangan diri selain keterampilan kewanitaan itu. Misalnya menyediakan buku-buku yang bermutu dan akses informasi seperti Koran maupun internet. Ini akan jadi modal penting agar dia selalu ‘nyambung’ ngobrol dengan Anda dan membuatnya kaya informasi untuk dibagikan kepada anak-anaknya.
Suami juga harus belajar untuk tidak terlalu bergantung kepada isteri, walaupun semua dengan senang hati ia lakukan. Ini penting sebagai bentuk teladan bagi anak-anak serta pembiasaan diri bila sewaktu-waktu isteri tidak bisa ada di rumah. Di samping itu, semua isteri akan bahagia kalau suaminya menyempatkan diri untuk membantu pekerjaan rumah tangga. Syukurilah ia karena akhawat seperti ini membuat suami menjadi raja di rumahnya. Jangan sekali-kali meremehkannya atau tidak mendengarkan pendapatnya, semata-mata karena ia berada di rumah. Justru, Suami akan mendapatkan perspektif lain yang berharga dan tidak didapati dari riuh rendahnya pelbagai kepentingan di luar sana.

b.       Menaruh perhatian khusus pada tumbuh kembang anak-anak

Ada pula akhawat rumahan yang berada di rumah karena kesadaran akan peran sebagai ibu bagi anak-anaknya, terutama dalam hal pendidikan. Akan tetapi, dia tidak memiliki minat yang terlalu dalam untuk pekerjaan-pekerjaan rumah tangga. Akhawat seperti ini berada di rumah karena ingin bersama anak-anaknya. Biasanya kesadaran ini diperoleh dari pendidikan formal maupun interaksinya dengan berbagai informasi penddikan anak.

Akhawat seperti ini tidak bisa dituntut untuk memiliki kompetensi seperti halnya akhawat rumahan yang pertama. Alasannya karena minat dan bakatnya lebih kepada pendidikan dan pengasuhan anak. Syukurilah keadaan ini dengan mendukung, baik itu menyediakan buku-buku parenting dan pendidikan, maupun jadi rekan diskusinya untuk tumbuh kembang anak. Ditinjau dari pendidikan dan pengalamannya, besar kemungkinan memiliki keinginan untuk beraktualisasi di dunia luar walaupun kegiatan utamanya adalah di rumah. Suami harus bisa memaklumi keinginan itu dan membantu menggali, apa sebenarnya cara yang ia inginkan. Akhawat seperti ini insyaallah adalah berkah bagi pendidikan dan perkembangan generasi penerus suami

Suami juga kemudian harus memaklumi apabila masakan, misalnya, bukan prioritas baginya, bahkan bisa menjadi sesuatu yang membuatnya tertekan. Itu bukan minat dan bakatnya. Sadari bahwa kebahagiaan ibu akan memancar pada pengasuhan anak-anaknya, tak mungkin menuntut seorang ibu yang  tertekan untuk bisa membahagiakan anak-anaknya dan juga suami sendiri. Alangkah bijaksana apabila suami mendukung dengan menyediakan pembantu untuk melakukan pekerjaan rumah, sehingga isteri dapat fokus mengembagkan ilmunya dan mengaktualisasikan diri dengan pengalamannya itu. Aktualisasinya mungkin bukan sebagai pekerja kantor, tapi pekerjaan-pekerjaan paruh waktu atau yang bisa ia lakukan dengan fleksibel dari rumah.

2.     Memahami Akhwat bekerja
Akhawat seperti ini adalah yang bekerja seperti halnya suami, dari jam 8-17 setiap harinya. Berkarir dan menghadapi konflik di tempat kerja. Kadangkala harus ke luar kota dalam waktu lama. Isteri seperti ini harus disyukuri karena selain meringankan , tapi ingat, tidak mengurangi kewajiban suami, juga mudah untuk dibanggakan di mata rekan-rekan atau tetangga.  Di samping itu suami merasa lebih aman, karena kalau-kalau ada kondisi yang mengganggu pendapatan suami, masih ada ‘pegangan’ lain. Di sisi lain, mungkin juga isteri bekerja karena memang harus menghidupi keluarganya, kondisi khusus yang harus juga diperhatikan.
Pertanyaan pentingnya adalah, apakah isteri anda betul-betul ingin bekerja? Perlu difahami bahwa bagi sebagian  perempuan, bekerja adalah bagian dari aktualisasi dirinya. Bukan semata-mata mencari nafkah. Selain itu, pada saat menikahinya, isteri anda sudah terbiasa dengan ritme hidup bekerja. Jangan tanya soal masak dan urusan pekerjaan rumah, bilapun isteri ternyata mahir melakukannya, itu adalah ‘bonus’ bagi Anda, mengingat ia sama lelahnya dengan Anda di luar rumah.

Hadirnya anak tentu melahirkan dilema tersendiri baginya. Saat itu adalah saat-saat kritis bagi akhawat bekerja, suami perlu berkomunikasi dengan intensif dengan isteri akan perencanaan setelah melahirkan anak. Apakah meneruskan pekerjaan atau berhenti, semua ada konsekuensinya masing-masing. Bila akhirnya ia memutuskan untuk berhenti, maka ia butuh masa transisi yang tidak sebentar, karena seluruh kesehariannya berubah. Tak hanya soal jadwal,  namun juga soal rasa harga diri. Ini penting untuk dimengerti.

Sebaliknya, bila diputuskan untuk tetap bekerja, maka pastikan bahwa anak memperoleh pengasuhan yang tepat dan sesuai kebutuhannya. Pahami juga bahwa isteri anda kelak akan bekerja ekstra, misalnya saja, memperjuangkan ASI eksklusif dengan memerah susu di jam kerja, juga mengajak main dan menemani anak-anak belajar kala ia lelah sepulang dari kantor.

Hayati Peran Suami sebagai Qowwam
Suami adalah Qowwam dalam keluarga, agama mengaturnya begitu. Sebagai calon pemimpin dalam keluarga, selayaknya seorang calon suami menghayati diri dan visi hidupnya sendiri. Apa  sejujurnya yang suami inginkan dalam hidup? masa depan seperti apa yang akan membuat suami  bahagia? Isteri seperti apa yang dapat saling menopang untuk itu? Pertanyaan-pertanyaan seperti itu mungkin adalah gambaran sebuah proses, namun penting bagi suami untuk mengetahuinya dengan baik agar tak sampai salah langkah, over estimate, atau sekadar mengikuti norma sehingga malah berujung pada ketidak bahagiaan…. Na’udzubillah.
Harus disadari bahwa setiap pilihan pasti memiliki konsekuensi. Pahami juga bahwa isteri adalah seseorang dengan pengalaman dan pengetahuan yang berbeda dengan anda, seberapapun anda mengantisipasinya saat memutuskan untuk melamarnya. Komunikasi dan keterbukaan selalu penting. Tak ada satu pilihan yang akan baik dan sesuai untuk semua pasangan. Kita harus mencarinya sendiri. Semuanya akan menjadi sebuah proses yang panjang dan bergejolak, tapi semoga di ujungnya suami dan isteri akan merasakan bahagia sejati. Sakinah, Mawaddah, wa Rahmah.
Wah...cukup panjang juga penjelasan dari beliau. Mungkin ada sedikit tambahan pendapat dari saya, bahwa pekerjaan akhwat tidak selalu identik dengan pekerjaan di luar rumah dengan status pegawai atau pekerja gaji tetap lainnya. Bisa saja ia bekerja sebagai wirausaha yg bergerak di dalam dan luar rumah. Atau mungkin ada yang mengambil pilihan menjadi pengajar yang diselingi dengan wirausaha. Namun ada suatu hal yang menggelitik saya, ketika mempertanyakan; Bagaimana ketika isteri harus bekerja untuk mencukupi kebutuhan keluarga? Atau bahkan ia bekerja bukan sekedar untuk aktualisasi diri, melainkan sebagai sebuah kewajiban karena sang suami belum merasa mampu membangun finansial keluarga?

Kini kondisi zaman sudah banyak berubah, bahkan peran antar suami dan isteri pun sudah kontradiksi. Ada isteri yang berperan menggantikan tugas suami, atau sebaliknya. Meski harus mengambil pilihan yang pahit, sang isteri tetaplah seorang isteri. Kewajiban utamanyalah mendidik anak meski ia harus bekerja di luar rumah. Nah, inilah tantangan utama akhwat ketika harus menyesuaikan kondisi dan membagi perannya dalam keluarga dan masyarakat. Bagaimana pendapat para pembaca note ni? Mungkin hal ini bisa untuk didiskusikan bersama melalui forum khusus di sini...Saya tunggu feed backnya, ya...

An Maharani Bluepen
110111,02:02

Read Users' Comments (2)

2 Response to "Ketika Akhwat Harus Bekerja...."

  1. Anonim, on 18 September 2012 13.03 said:

    Tulisan yang sangat bagus..tanpa andan hanya memandangnya dari sisi psikologis nya saja..tidak mencantumkan pandangan dari sisi fiqih dan syariahnya.Ini penting untuk menghadirkan dan memberikan pandangan yang berimbang.Ada baiknya anda cantumkan pandangan dan pendapat dari beberapa Ulama ttg hal ini.Bukan hanya dari Ustad.Semata2 ini sebgai bentuk pembelajaran yg sempurna dan menyeluruh,bukan skedar pandangan pribadi anda dan ustzzag atau Ustad anda saja.Banyak Ulama dan Tabiin yang sudah membahas ttg hal ini.Afwan

  2. An Maharani Bluepen, on 28 September 2012 13.54 said:

    ada referensi yang bisa mendukung dan menambah wawasan untuk artikel ini, Pak?
    terima kasih informasinyaa..

Posting Komentar

Thanks for reading
^________^

 
Free Website templateswww.seodesign.usFree Flash TemplatesRiad In FezFree joomla templatesAgence Web MarocMusic Videos OnlineFree Wordpress Themeswww.freethemes4all.comFree Blog TemplatesLast NewsFree CMS TemplatesFree CSS TemplatesSoccer Videos OnlineFree Wordpress ThemesFree CSS Templates Dreamweaver