Episode Membaca dan Menulis

Bacalah, dengan nama Tuhanmu yang Menciptakan. Dia telah menciptakanmu dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmu-lah Yang Maha Pemurah. Yang Mengajar dengan kalam. Dia mengajar manusia sesuatu yang tidak diketahui  [Q.S Al ‘Alaq 1-5].
  
Bacalah. Bacalah. Bacalah. Buku adalah jendela dunia. Dengan membaca buku, cakrawala ilmu pengetahuan seseorang menjadi terbuka dan terarah. Bahkan, seseorang bisa menjelajahi alam semesta lewat ilmu yang dimilikinya. Apalagi jika umat muslim membaca Al Qur’an, lalu memahami maknanya dan mengamalkan setiap nilai urgensi di dalamnya. Point plus lagi jika mengajarkan ke orang lain. Jadilah sebuah ilmu yang bermanfaat.
Membaca adalah proses awal dari metamorfosa pendidikan. Perjalanan yang cukup pelik memang, ketika harus mengeja huruf satu per satu kemudian merangkainya dalam sebuah kalimat. Namun, kesabaran seorang guru mengajarkan muridnya membaca adalah proses yang menyenangkan. Pada masa itu, guruku tak menggerutu saat aku melakukan kesalahan yang berulang kali dalam membaca kalimat. Begitu pula dengan orang tuaku. Mereka adalah guru sejati dalam kehidupanku. Mereka begitu bangga ketika anak didiknya mengucapkan kata pertama dalam hidupnya, kemudian membaca buku sesuka hati, melahap halaman per halaman tanpa henti, serta menjadikan membaca sebagai sebuah kebiasaan.
Ketika fase membaca sudah aku lalui, sang guru mengajarkanku tentang menulis. Aku bisa memahami bahwa tulisan sebagai awal peradaban manusia. Gesekan-gesekan huruf yang aku ciptakan tak sebaik apa yang diajarkan oleh sang guru. Aku menuruti hasrat sendiri saja, membuat bentuk garis yang semula tak tahu maknanya. Dari menulis, aku bisa merangkai kata yang bisa aku baca. Dari sebuah tulisan pula, aku bisa menuai berbagai inspirasi dari beberapa pengalaman guruku mengajar dan aku implemantasikan ke murid-murid bimbingan belajarku.

Aku membuka sampul biru raport masa sekolah dasar. Begitu banyak kenangan yang terpatri di sana. Dimulai dari Bu Siti Ma’anih, guru kelas 1 SD Sudimara Jakarta yang sangat berjasa bagiku. Tanpa beliau, mungkin aku tak bisa menciptakan tulisan-tulisan bermakna hingga sekarang. Selanjutnya, pengalaman tentang belajar membaca dan menulis semakin menarik ketika aku pindah ke kota lunpia.
Sebuah pengalaman berharga ketika aku mempelajari Bahasa daerah. Aku harus mulai dari angka nol, mempelajari seluk-beluk Bahasa Jawa. Pada saat itu, aku masih berstatus siswa baru di kelas 2 SD, pindahan dari Jakarta. Aku tak bisa menulis dan membaca aksara Jawa. Namun dengan keuletan dan kesabaran Bu Kartini, aku bisa memahami pelajaran cukup baik. Aku bisa membaca kosonan Bahasa Jawa dengan terbata-bata dan menulis aksara Jawa semampunya. Bu Kartini selalu saja memberikan ruang semangat dan inspirasi saat aku mulai menyerah dengan senyumnya yang merekah. Meskipun sudah renta, kesabaran beliau selalu terjaga sampai detik pensiun mengajar tiba.
Tak hanya pelajaran Bahasa daerah, aku perlu waktu panjang dalam memahami ilmu tajwid dan tahsin Al Qur’an. Begitu sulitnya dalam mengeja untaian huruf hijaiyah satu per satu. Namun Bu Mustofa, guru ngajiku di masjid, senantiasa sabar dalam membimbingku. Tak habis pikir, mengapa beliau bisa sabar dalam menghadapi keterbatasanku dalam membaca. Beliau tidak menekanku untuk selalu “bisa” namun mengajakku untuk mencintai setiap ayat yang aku baca. Beliau tidak membenci atas kebodohanku, apalagi menghardik saat aku salah mengeja ayat-ayat. Kesabaran beliaulah yang meneladaniku untuk selalu bersabar dalam menghadapi muridku yang sedang belajar mengaji. Jika aku ingin marah terhadap murid, maka aku akan ingat keteduhan wajah Bu Mustofa dalam membimbingku mengaji.
Aku semakin larut dalam mempelajari Bahasa, termasuk Bahasa Indonesia sebagai perekat Bahasa persatuan serta Bahasa Inggris sebagai Bahasa internasional. Ada beberapa guru Bahasa masa SMP dan SMA yang menginspirasiku untuk mempelajari keduanya, termasuk menjadikan menulis sebagai sebuah kebiasaan yang menyenangkan. Ketika kelas 3 SMP, guru Bahasa Indonesia-ku terkenal dingin dan displin. Semua materi di kedua buku pokok harus dibabat habis jika tak ingin mendapatkan sanksi. Sanksinya begitu berat karena mendapatkan tugas dua kali lipat. Terpaksa, harus bisa menulis cepat dalam menyelesaikan tugas dengan jawaban tepat. Namun, konsekuensi sanksi itu sangat mendidik para siswa untuk belajar ekstra. Para siswa dapat memahami setiap bab materi yang dibaca. Materi puisi adalah menu favorit dari semua pelajaran Bahasa yang ada. Aku suka mendeklamasikan puisi buatanku sendiri. Tak peduli apa kata teman yang menganggapku over mendeklamasi. Aku sangat mendalami kata-kata konotasi yang ada dalam setiap bait puisi.
Sangat kontras dengan zaman SMA. Kebiasaan menulis sudah mulai jarang aku lakukan. Pelajaran sains di atas segala-galanya. Persaingan nilai akademik terjadi di setiap kelas. Siswa yang terlihat rajin ternyata tak menjamin nilai akademiknya mulus. Banyak juga siswa jenius yang berasal dari siswa-siswa yang jarang belajar dan lebih suka mengisi waktu mudanya dengan berhura-hura. Aku begitu heran, IQ mereka mungkin di atas rata-rata sehingga tidak perlu sulit memahami pelajaran. Berbeda dengan diriku, aku perlu mengasah otakku berulang kali jika ingin menguasai sebuah materi. Jika aku bosan belajar, aku lebih suka menggambar abstrak, kembali ke dunia imajinasiku.
Kehadiran guru sebagai motivator juga sangat berarti buatku. Pada saat kelas 3 SMA, aku tak bisa menguasai speaking Bahasa Inggris dengan baik. Rata-rata nilai ujianku selalu mendekati tujuh. Namun Bu Christine selalu memahami kekuranganku dengan mengajakku berdiskusi dalam Bahasa Inggris. Beliau mengenalkanku sebuah spirit motivasi, “No pain, no gain”. Ya. Tak ada pencapaian tanpa kerja keras. Jika ingin mahir Bahasa Inggris, maka aku tak boleh malu atau minder dalam mempelajarinya. Dengan bekal spirit itulah, aku semakin terbiasa mengucapkan kosakata dan tak segan melatih percakapan Bahasa Inggris dengan teman sekelas.
Saat era kuliah, spirit membaca dan menulisku kembali menyala. Selain organisasi ilmiah, politik dan rohani, aku terjun dalam kegiatan jurnalistik kampus FKM Undip. Meskipun pernah menjadi pemimpin redaksi, tulisan-tulisan yang aku muat dalam media kampus kadang tak lepas dari kritikan-kritikan tajam mengenai kondisi birokrat beserta aktivitas mahasiswa. Namun demikian, keberanianku untuk menulis di media massa koran atau majalah terasa belum cukup karena ketakutan masih merajai. Aku masih belum percaya diri dan  khawatir jika tulisanku tak berhasil lolos diaudisi. Memang benar kata Pak Arda Dinata, penulis yang aku kenal di kampus, “Kalau belum mencoba, kenapa menilai diri ini gagal?”
Sampai saat ini pun, aku masih belajar menulis. Masih banyak hal yang perlu aku pelajari dari guru-guru hebat yang pandai menulis dari hati, seperti Kang Abik, Bang Fuadi, Kak Iqbal Dawami, Kak Andrea Hirata, Pak Budi Maryono, Bunda Helvy Tiana Rosa, Bunda Asma Nadia, Bunda Afifah Afra dan Bunda Pipit Senja. Seri cerita baik novel, cerbung maupun cerpen dari penulis-penulis tersebut sangat aku nantikan karena setiap bab episode buku selalu mengandung spirit petuah motivasi dan inspirasiku untuk selalu menulis.
Aku masih ingat, saat jumpa bedah buku “Ranah Tiga Warna” bersama Bang Fuadi di Gramedia, Semarang pada bulan April 2011. Bang Fuadi memberikan saran kepadaku untuk selalu menulis dari hati jika ingin memproduksi tulisan yang inspiratif. Dengan segenap hati, aku mulai belajar menulis dengan sungguh-sungguh, mengekspresikan dan membahasakan makna kata yang terlintas dalam hati dan pikiran. “Sebuah tulisan yang inpiratif dapat mengajak orang lain ke jalan kebaikan,” begitulah tanggapan Bang Fuadi dalam diskusi singkat bersamaku.
Aku semakin giat menulis. Entah itu dalam bentuk cerpen, cerbung, atau sekedar catatan hati yang aku susun dalam komunitas blogspot.com, multiply.com,  ataupun notes fb. Tentunya setiap tulisan yang diproduksi, selalu aku titipkan sedikit pesan hikmah, spirit, atau doa di dalamnya. Aku harap setiap pembaca dapat memahami dan mengambil hikmah setiap cerita yang ada.
Aku masih belajar menulis.
Aku ingin menjadi penulis yang inspiratif.
Aku juga ingin menjadi guru yang inspiratif bagi murid-muridku.
Pernah aku berdiskusi dengan beberapa sahabatku. Kata Kak Dwi, “Guru inspiratif bisa siapapun yang ada di sekitar kita, yaitu seseorang yang mampu menimbulkan pencerahan sehingga membuat kita tergerak menjadi pribadi yang lebih baik. Tidak harus dari hal yang besar tapi justru dari hal-hal kecil yang nampak biasa dan terlewatkan kita.” Ya. Kau benar, sobat. Hal-hal kecil itu bisa dimulai dari tulisan yang kita buat. Tulisan yang mengandung inspirasi dan motivasi kepada orang lain untuk selalu bersemangat menanam kebaikan.
“Jika setiap kehidupan adalah sekolah, maka setiap orang adalah guru bagi dirinya sendiri,” ungkap Kak Maya. Hmm. Sekali lagi aku mengangguk tanda setuju atas pernyataan sahabatku. Pengalaman hidup adalah guru berharga bagi setiap orang agar tidak terperosok ke dalam jurang yang sama. Oleh karena itu, ikatlah ilmu pengalaman berharga ke dalam tulisan-tulisan sejarah agar kita mudah mengenangnya dan menjadikannya pelajaran di masa tua.
:: Lomba Kisah Reflektif_Man jadda wa jada_menjadi guru yang inspiratif ::
An Maharani Bluepen
19 Ramadhan 1432 Hijriah
Text Box: CURRICULUM VITAE

Read Users' Comments (6)

6 Response to "Episode Membaca dan Menulis"

  1. Anonim, on 28 Agustus 2011 09.40 said:

    Ayo... semangat membaca dan menulis...
    Agent of change, mari merubah dunia!!!

    *Salam Aidil Fitri

  2. An Maharani Bluepen, on 29 Agustus 2011 10.06 said:

    wah, ada pembaca setia tulisan An nii..hihi...siip...Mohon maaf lahir batin, kak Dimas..^^

  3. An Maharani Bluepen, on 29 Agustus 2011 10.24 said:

    rangkuman tentang guru inspiratif, bisa diliat di sini: http://aniamaharani.blogspot.com/2011/08/ramadhan-metamorfosa-dhansa-13.html

  4. nets cooling, on 29 Agustus 2011 11.04 said:

    waaa... ngeblog dari kapan mbak?? hehehe...

  5. An Maharani Bluepen, on 29 Agustus 2011 21.46 said:

    @ nets: sejak tahun 2007 :)

  6. Dian, on 28 Mei 2013 06.58 said:

    Insya Allah... Menulis dalam dakwah...

Posting Komentar

Thanks for reading
^________^

 
Free Website templateswww.seodesign.usFree Flash TemplatesRiad In FezFree joomla templatesAgence Web MarocMusic Videos OnlineFree Wordpress Themeswww.freethemes4all.comFree Blog TemplatesLast NewsFree CMS TemplatesFree CSS TemplatesSoccer Videos OnlineFree Wordpress ThemesFree CSS Templates Dreamweaver