Riba, Jangan Dekati Kami, ya :)

Terinspirasi dari cerita-cerita tentang bunga. Sebuah bunga yang tidak menyebarkan bau harumnya, melainkan menyesatkan manusia ke kubangan dosa. Tahukah bunga apakah itu, kawan? Seratus buat Anda yang menjawab bunga riba. Kata di sini bukan mengacu pada nama seseorang (kebetulan nama teman fb saya ada yang bernama Riba ^^), tapi sekedar fenomena yang sudah dianggap biasa oleh masyarakat awam.



Jika kita cermat, maka di sekitar kita banyak sekali unsur-unsur riba yang tersemat di dalamnya. Saya ambil contoh saja pada keluarga Rani (nama sebenarnya). Setiap bulan, sang Ibunda bingung membayarkan cicilan motor. Tak hanya itu, beliau juga depresi karena penghasilannya beserta suami kadang-kadang tak cukup untuk melunasi cicilan ledeng (PAM), listrik, dan mencukupi kebutuhan pokok lainnya. Alhasil, sang Ibunda mendapatkan ide cemerlang dari teman sebayanya. Beliau mendapatkan dana pinjaman dari 'bank titil' atau istilah Indonesianya 'bank harian'. Maksudnya, meminjam dana secukupnya untuk melunasi semua tagihan dengan cara dicicil setiap hari kerja. 

Ibunda Rani hanya berprofesi sebagai penjual warung nasi kaki lima, sedangkan sang suami berprofesi sebagai petugas keamanan di sekolah swasta. Penghasilan mereka tiap bulan kadang tak mencukupi untuk semua kebutuhan. Meski demikian, Rani tetap berusaha untuk mandiri. Jujur, di hatinya yang terdalam, ia tak ingin ibundanya terperangkap dalam dunia riba. Ia ingin membantu Ibunya bangkit dari keterpurukan. Ia bertekad, untuk membantu perekonomian keluarganya saat berkerja. Pada masa kuliah, Rani memang langganan mendapatkan beasiswa. Hanya ini yang bisa ia lakukan untuk meringankan beban orang tuanya.

Lain lagi dengan kasus Zulia (nama sebenarnya). Kali ini, ia terjun ke dunia keja perbankan yang sesuai dengan ilmu kuliahnya dulu. Namun sayang, saat ia ingin memasuki perbankan yang memenuhi syariat Islam, ia justru memilih pilihan pekerjaan yang pertama kali diumumkan. Pilihan pekerjaan favoritnya diumumkan setelah pekerjaan yang sebetulnya tidak ia inginkan. Sempat juga menyesal karena ingin berpindah haluan, namun ia sudah terlanjur terikat kontrak selama dua tahun. Ia tak bisa lepas begitu saja. Jika keluar dari perusahaan, maka ada pinalti denda yang harus dibayarnya. Jumlahnya tak sedikit. Ia berurung niat untuk mengundurkan diri. Selama dua tahun ia ingin memperbaiki niatnya berkerja. Ya. Berkerja sekaligus beribadah.Setelah dua tahun berjalan, ia berencana untuk meninggalkan perkerjaan yang membuat batinnya terasa lebih nyaman.

Ia sadari, bunga yang diberikan oleh tempatnya berkerja sangat luar biasa besarnya. Hampir 3 kali lipat dari total pinjaman. Bahkan jika terlambat, dendanya juga bisa melangit. Zulia sangat tertekan batin dalam berkerja. Di sisi lain ia memandang sisi negatif dari perbuatan riba, ia juga menyadari ada sisi positif dari pinjaman bank kepada nasabah. Para nasabah bisa meminjam uang untuk keperluan-keperluan penting mereka. Meski mereka termakan riba, mereka tak peduli atas besarnya jumlah pinjaman yang berlipat ganda.

Bunga...Oh, bunga riba....kehadiranmu membuat orang semakin sengsara, sekaligus tertawa bahagia. Loh, koq ada, ya, yang merasa bahagia? Bahagia dari pihak siapa? Tentunya, dari pihak providernya. Contoh nyatanya adalah kartu kredit yang sering digunakan oleh orang-orang (yang katanya sih, punya dompet tebal). Hal itu juga salah satu bentuk dari riba. Namun sayang, sebagian dari mereka lebih asyik untuk menggunakan kartu kredit daripada investasi amal dunia akhirat.

Budaya riba tak akan berhenti, jika para produsen motor dan mobil tidak menerapkan sistem cicilan/ angsuran dengan harga jual yang selangit. Bahkan, ada kasus dari produsen yang menerapkan sistem DP Motor cuma seribu perak. Terus, bayar cicilan tiap bulan berapa, Bang? Wah, bisa-bisa jadi seribu kali lipat dari harga DP. 

Budaya riba juga tak akan berhenti, jika sistem perbankan Indonesia juga menggunakan bunga pinjaman yang 'wah'. Trus, bayar pegawainya pakai uang siapa, dunk? Nah itu, setidaknya perbankan Indonesia berkiblat menerapkan sistem Islami ******H. Jangan cuma nama Islami banknya aja, ya, tapi juga proses transaksinya. Peran kebijakan Pemerintah juga sangat penting dalam menerapkan sistem perbankan ini. Sebagai umat muslim, sudahkah kita menerapkan sistem Islami dalam perekonomian (Misal, menggunakan deposito syariah)

Budaya riba akan terus berjalan bahkan terus berlari, jika umat muslim tak sepenuhnya menyadari bahaya riba itu sendiri. Alloh SWT berfirman dalam QS Al Baqarah [2]: 275-276
"Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan serta lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itulah, adalah disebabkan oleh mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Alloh SWT telah menghalalkan jual beli dan Mengharamkan Riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya Larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Alloh. Orang yang mengulangi (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya (275). Alloh memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Alloh tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa (276)."
 Masih banyak aksi riba yang masih dalam tataran gunung es (tak tampak kasusnya). Sedikit hal yang bisa saya sampaikan mengenai riba. Saya bukanlah ahli ekonomi Islam yang tentunya lebih mendalami bidang ini. So, saya sangat harapkan komentar pembangun dari kawan-kawan pembaca yang lebih dalam ilmunya. ^^
Arigato, yaa...

An Maharani Bluepen
110512

Read Users' Comments (3)

3 Response to "Riba, Jangan Dekati Kami, ya :)"

  1. Ririe Khayan, on 12 Mei 2012 09.33 said:

    Ikutan menyimak Mbak, dan semoga saya bisa menjauhi riba dalam segala manifestasinya...

  2. An Maharani Bluepen, on 12 Mei 2012 21.44 said:

    Aamiin..
    Makasii atas kunjungannya mbak Ririe..^^
    Masih semangatt menuliss, kn?

  3. An Maharani Bluepen, on 12 Mei 2012 21.48 said:

    Ohya, mbak Ririe punya Fb atau jejaring sosial lainnya? :)

Posting Komentar

Thanks for reading
^________^

 
Free Website templateswww.seodesign.usFree Flash TemplatesRiad In FezFree joomla templatesAgence Web MarocMusic Videos OnlineFree Wordpress Themeswww.freethemes4all.comFree Blog TemplatesLast NewsFree CMS TemplatesFree CSS TemplatesSoccer Videos OnlineFree Wordpress ThemesFree CSS Templates Dreamweaver