rama[DHAN] metamorfo[SA] DHANSA # 11


Hari kesebelas

Alhamdulillah...pagi-pagi mendapatkan siraman rohani dari sang murobbi. Silaturahiim dengan beberapa akhwat yang sudah lama tidak berjumpa. Terutama dengan Mbak Nissa, akhwat yang baru saja menikah. Hyum..hyumm...Rasa kangen terobati dengan santapan feed hati. Yap. Tema hari ini tentang nuansa bulan ramadhan..bulan ramadhan sebagai sarana tarbiyah...pembersihan jiwa yang ternoda...keikhlasan beribadah hanya kepada Alloh, menuju muara takwa.

Ohya, sedikit mengutip dari secuil kisah Pak Budi Maryono, seorang penulis, teman blogspot An:

Berdendang DOREMIFASOLASI

Romo mengambil dan menyulut rokok entah keberapa selama kami berbincang, lalu nyruput kopi instan bawaan anak muda juragan jengkol yang datang dan bergabung dengan kami lewat tengah malam. “DO itu DOA. Kita harus mengawali apa pun kegiatan kita dengan do-a. RE itu REPOT. Dalam hidup ini kita tak bisa hanya mengandalkan doa tapi juga harus mau repot. Usaha, ikhtiar, ketemu masalah lalu bingung, sedih, panik. MI itu MIKIR. Kalau mau dapat jalan keluar, ya harus mau mikir. Kalau mau mikir, kita pasti ketemu FA, yaitu FAHAM. Tidak hanya terhadap suatu masalah tapi juga bisa memahami kehidupan hingga tahu pada siapa mesti bersyukur. Lalu SOL….AT, sembayang, menyembah Gusti Allah sebagai bentuk pengakuan atas LA. Apa itu LA? Pengin tahu LA itu apa? Sikkk….”

Romo mengambil dan menyulut rokok lagi, menikmati seseruput kopi instan lagi. Aku menunggu. Tak bertanya, tak menyela. Setelah sekian kali embusan asap, dia melanjutkan, “LA itu LAHAULA WALAAKUATA ILLA BILLAH… Kita ini ndak punya daya apa-apa kalau Gusti Allah ndak ngasih daya. Naaa… agar hubungan dengan Gusti Allah itu sempurna, kita harus lakukan SI, yaitu SILATURAHIM dengan niat yang bersih, pikiran positif, tanpa iri hati dan pamrih. Lalu kembali ke DO lagi…”

Setelah terdiam beberapa saat, mencerna othak-athik gathuk a la pelawak tapi amat serius itu, aku sampaikan tangkapanku, “Dalam tangga nada, DO berikutnya itu bertanda titik di atas, Romo. Itu DO yang lebih tinggi. Jadi meski mengulang atau berulang, kembali pada DO, mestinya DO yang lebih tinggi dan terus meninggi. Jika tidak, kita akan mandek, tak pernah naik kelas.”



Sinyum simpul An mengembang jelas ketika membaca dialog mereka. Hyum..Begitu mendalam maknanya. Mengobati luka batin An yang masih membekas. Dan ternyata Alloh masih sangat sayang terhadap An.

Menjelang senja, An berbuka bersama dengan kawan-kawan FIM (Forum Indonesia Muda) dan para peserta essay KEYDO. Planning-nya, Insya Alloh kami akan menerbitkan sebuah buku sebagai output dari acara bedah buku lalu. Kami harap, dengan diterbitkannya buku perdana ini, dapat memberikan ruang pencerahan bagi generasi muda dalam mempersiapkan kehidupan rumah tangga yang sakinah ^^.
 
Selepas bukpas, Alhamdulillah ketiban duren jatuh dari hasil PKM-K Es krim bayam ijo. Semoga rejeki yang didapat ini Kau Berkahi, ya Rahiim...aamiin.

Read Users' Comments (2)

2 Response to "rama[DHAN] metamorfo[SA] DHANSA # 11"

  1. Anonim, on 11 Agustus 2011 16.19 said:

    ah... begitulah sastrawan dan budayawan berkisah, dalam segal hal dapat dijadikan cerita dan kisah. dan kita adalah orang2 yg takjub dan ingin bisa seperti mereka ^^, Thanks for sharing...

    *(dari blogger amatiran)

  2. An Maharani Bluepen, on 14 Agustus 2011 11.55 said:

    Yap..sejauh mana kita mengaplikasikan hikmah yang kita dapat..^^

Posting Komentar

Thanks for reading
^________^

 
Free Website templateswww.seodesign.usFree Flash TemplatesRiad In FezFree joomla templatesAgence Web MarocMusic Videos OnlineFree Wordpress Themeswww.freethemes4all.comFree Blog TemplatesLast NewsFree CMS TemplatesFree CSS TemplatesSoccer Videos OnlineFree Wordpress ThemesFree CSS Templates Dreamweaver