Cerpen Non Fiksi_Audisi Penjaga Hati_IBTASIM


Ibtasim
oleh An Maharani Bluepen

Senja yang merona cerah. Sinar matahari mulai meninggalkan jejaknya perlahan. Keceriaan anak-anak TPQ menggema di sudut mushola Ar Royyan. Mereka mengakhirinya dengan doa penutup majelis lalu mengucapkan salam dengan lantang. Satu-per satu para ‘serdadu kecil’ menyalami pengajar TPQ dengan wajah sumringah, berlari menuju rumah masing-masing. Tak lama lagi adzan maghrib akan berkumandang.

Detak jantung salah seorang pengajar berdenyut lebih cepat. Raut wajah pemuda itu berubah menjadi sayu dan tidak lagi bersemangat. Ada banyak hal yang menghimpit dadanya. Ia tidak ingin melukai hati orang-orang yang sudah membesarkannya dengan peluh keringat dan kasih sayang. Di sisi lain, hatinya memberontak untuk melampiaskan perasaan yang sebenarnya. Perasaan kelabu yang semula tak ingin untuk dijelaskan. Ia terus berpikir bagaimana cara untuk menemukan roda waktu agar kembali ke masa lalu. Ia meredupkan segala kegundahan hatinya dengan berwudhu dan berusaha menghadap Tuhannya dengan jiwa yang tenang.
**
Sepanjang perjalanan pulang ke rumah, ia teringat akan kejadian dua minggu lalu. Sebuah memori yang tak akan terlupakan. Segala luapan perasaan muncul ke permukaan masing-masing. Ia tahu bahwa ia tak mungkin bisa berdusta. Perasaan kasih sayang terhadap orang yang dianggapnya sebagai adiknya sendiri berganti haluan secara perlahan. Segala sikap perhatian yang ia berikan memang terlalu berlebihan. Setiap kali menelepon, menanyakan kabar yang menurutnya tidak penting atau sekedar membahas masalah TPQ di desa Tingkir, Salatiga. Rutinitas komunikasi yang mereka jalin akhirnya menumbuhkan benih-benih cinta di antara keduanya.

Trims a lot, atas pemberian mushafnya kemarin, Kak. Warnanya pink, sangat pas buat hati Ana yang sedang gersang,” keluh Shofiana atas segala perasaannya yang mencekam. Beberapa kali ia diteror oleh pemuda-pemuda yang menyukainya. Sebagian ada menggunakan cara yang halus, bahkan ada pula yang menggunakan cara ekstrim. Sebagai bunga desa yang berakhlak santun, Shofi memang tidak bisa bersikap kasar apalagi pandai menyakiti hati orang lain. Baginya, kehadiran Aswan sebagai kakak angkatnya memberikan ruang penyejuk dan pelindung dirinya dari segala ancaman.

“Lo, ada apa lagi, Dek? Diganggu lagi? Tenang aja, Kakak siap membantu,” tawar Aswan dengan hangat. Ia menangkap kegelisahan Shofi.
“Hyum, banyak proposal yang mengajukan namun Ana masih bimbang. Sebenarnya Ibu ndak setuju jika Ana langsung menikah usai tamat kuliah. Ana harus kerja dulu, jadi orang yang beradab. Ibu pengen liat Ana sukses di dunia kerja sebelum menikah. Jika pun menikah, harus dengan orang sewilayah biar bisa menjalin silaturahiim dengan keluarga di rumah,” ungkap Shofi di balik telepon.
“Kalo begitu, apapun hasil keputusannya, Shofi ndak boleh mengecewakan Ibu. Shofi bisa berkerja menurut keinginan Ibu tanpa harus tersiksa di dalamnya. Jika ingin menikah, bisa dikomunikasikan dengan baik dengan calon pasangan. Apakah ia bisa tinggal di daerah dekat keluarga?” saran Aswan cukup panjang lebar. Ia memberikan pilihan yang cukup bijak.
“Iya, Kak. Ana akan mempertimbangkan dengan matang. Hmm, Ana ingin menanyakan, apakah benar, Kak Aswan sebentar lagi akan menikah?” tanya Shofi tiba-tiba. Ia menyembunyikan isaknya, beban pikiran yang menggundah hatinya. Ia memberanikan diri untuk konfirmasi langsung ke Aswan.
“Dari mana Shofi tahu? Dari Kak Khoif?” tanya balik Aswan. Ia terkejut karena Shofi sudah mengetahui kabar dirinya akan menikah. Hatinya menjadi tidak karuan.
“Iya, dari Kak Khoif. Alhamdulillah, barakalloh, ya, Kak. Semoga pernikahannya berkah,” sekali lagi Shofi berdusta, menunjukkan senyum kepalsuan di balik telepon.
“Insya Alloh, Fi. Mohon doanya, ya,” ucap Aswan datar.
“Ana ndak bisa membayangkan bisa kehilangan secepat ini,” ucap Shofi seketika. Ia terlanjur mengungkapkan bongkahan hatinya yang beku.
“Takut kehilangan apa, Fi?” bimbang Aswan. Ia tidak bisa mencerna kata-kata Shofi dengan lugas.
Ndak apa. Bukan masalah besar. Semoga Shofi juga bisa menyusul Kak Aswan untuk segera menikah,” sahut Shofi dengan bahasa yang penuh pengharapan. Ia tidak ingin mengungkapkan perasaannya lebih jauh lagi.
“Aamiin. Keep ibtasim, ya, Fi. Di manapun ada ujian, tetap tersenyum,” sahut Aswan memberikan ruang pencerahan.
“.....” Nada telepon putus tiba-tiba. Shofi mengakhiri percakapan tanpa perizinan dari Aswan. Semuanya menjadi hening. Masing-masing meraba perasaan, menebak menjadi sebuah kesimpulan, dan menyadari bahwa hal ini adalah sebuah pil kepahitan yang harus ditelan.
**
Kepulan rokok Ayah Aswan melambung tinggi dan memenuhi ruangan tamu yang sempit. Di sampingnya terdapat dua cangkir kopi dan gorengan. Aswan mencium tangan ayahnya dan mulai berbicara empat mata secara serius.
“Gimana persiapan pernikahannya? Udah siap semua, Nak?” tanya Ayah Aswan sambil mengamati kalender yang tertera di dinding ruang tamu. Seminggu lagi Aswan akan mendatangi kediaman calon isterinya. Hubungan kedua keluarga memang sangat dekat. Ayah Aswan adalah sahabat dekat dari calon mertuanya. Aswan pun mengenal Raisa, calon isterinya, jauh sebelum ia mengenal Shofi.
“Belum, Pak. Aswan belum siap seutuhnya,” ungkap Aswan dengan jujur.
“Belum siap kenapa? Ada yang bisa Bapak bantu?” tanya Ayah Aswan penasaran.
“Aswan belum siap mencintai Raisa dengan sepenuh hati,” kali ini nada Aswan terdengar lebih minor. Setelah lama mengenal Shofi, perasaannya berubah haluan. Ia lebih mencintai Shofi namun ia tak berani mengungkapkan perasaannya untuk menikahinya. Ia mengira bahwa Shofi memiliki tambatan hati yang lain. Ia tidak ingin melukai hati Shofi karena selama ini dirinya hanya dianggap kakak angkat.
“Tanggal akad sudah ditentukan. Jaga azzammu, Nak. Kau sudah berjanji untuk menikahi Raisa,” sahut Ayah Aswan sambil membersihkan putung rokok yang berserakan.
Inggih, Pak. Namun dada Aswan masih sesak. Aswan belum bisa melupakan orang yang selama ini Aswan cintai,” ucap Aswan dengan gemetar. Ia tidak bisa menyembunyikan perasaannya lagi. Ayahnya perlu mengetahui perasaannya sebelum rencana pernikahannya dengan Raisa berlanjut.
“Semua keputusan ada di tanganmu, Nak. Kau tinggal memilih antara mempertahankan egomu atau mempertaruhkan hati Ayahmu di hadapan Ayah Raisa. Apakah kau ingin mempermalukan Ayah di hadapan keluarga Raisa?” Ayah Aswan memberikan pilihan yang cukup sulit.
“Aswan tidak bermaksud untuk mempermalukan Bapak dan Ibu di hadapan keluarga Raisa. Aswan pengin Bapak dan Ibu mengetahui perasaan Aswan sekarang,” desak Aswan. Ia ingin dipahami oleh sikap bijak Ayahnya.
“Iya, Bapak mengerti. Namun bayangkan jika hal yang sama terjadi pada adik perempuanmu. Coba bayangkan, jika Ervin ditinggal oleh calon suaminya begitu saja tanpa alasan yang rasional? Apakah kau sebagai kakak bisa menerima sikap dari calon suami Ervin? Sebagai insan, kita akan menuai akibat dari semua hal yang sudah dilakukan. Semuanya berhubungan sebab-akibat. Kita akan menyadari jika ingin berempati merasakan posisi orang lain,” urai Ayah Aswan panjang lebar. Sang Ayah merangkul anaknya cukup erat, menenangkan jiwa anaknya yang sedang galau. “Nak, yakinlah, kau bisa mencintai Raisa meski kau tahu masih sulit melupakan orang yang selama ini kau cintai. Ibu sudah menganggap Raisa sebagai anak sendiri, Nak. Jangan kau kecewakan Ibumu. Bisa-bisa tekanan darah tingginya jadi kumat saat kau membatalkan pernikahanmu dengan Raisa.”
“Insya Alloh, Pak. Semoga Aswan bisa mulai mencintai Raisa dengan sepenuh hati,” harap Aswan kepada Ayahnya. Ketika lamaran minggu lalu, Aswan tidak menampakkan batang hidungnya di hadapan keluarga Raisa karena alasan pekerjaan yang dibuat-buat. Meski demikian, lamaran tetap berlangsung dan agenda pernikahan tetap direncanakan. Kali ini, Aswan tak ingin mengecewakan Ayahnya lagi. Ia mempertaruhkan sepotong hatinya untuk orang tua yang selama ini dicintainya.
**
Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari Keridaan) Kami, benar-benar akan Kami Tunjukkan mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya, Alloh benar-benar Beserta orang-orang yang baik (QS Al Ankabut: 69).” Shofi membuka mushaf Aswan, lalu berulang kali membaca ayat suci tersebut dengan mata berkaca-kaca. Ia merenungi atas segala sikapnya selama ini, apakah ia bisa menjaga hatinya dengan baik? Semua penafsiran yang ia anggap salah. Ia terlalu berharap dan membiarkan cinta yang belum halal bersemi. Dinding hatinya makin lama terkontaminasi oleh noda debu yang sulit dihapus dan dilupakan. Ia tidak ingin melupakan kenangan dengan Aswan begitu saja. Memori yang sudah terpatri indah di lembaran hidupnya.

Alloh memang mengetahui segala isi hati manusia. Saat seorang muslimah mampu menjaga hatinya dengan baik, maka Alloh akan memberikan senyuman, janji manis bagi orang yang mampu bersabar dan berkorban di jalan kebaikan. Shofi berusaha untuk menata perasaannya sebaik mungkin. “Ingatlah, hari ini adalah masa lalu untuk hari yang akan datang. Tidak sepantasnya kita mengisi masa lalu dengan tangisan dan uraian air mata saja. Karena dengan tersenyum, maka dunia akan tersenyum untuk kita sehingga hidup menjadi mempesona. Sungguh, ketika kita menangis, kita akan menangis sendiri. Ana masih ingat janji kita, Kak Aswan. Selalu tersenyum dalam kondisi apapun. Keep ibtasim!” ungkap Shofi dalam kesendirian di sudut kamarnya yang kecil.

05 Oktober 2011
Sebuah kisah non-fiksi untuk “Audisi Para Penjaga Hati” Bab I: Sepotong Hati, Gerakan ‘Ayo Menulis Buku’  menulis buku minimal 1 judul seumur hidup. Nama pelaku dan setting disamarkan oleh penulis.

Nama penulis: Ania Maharani, SKM
Nama fb: Bluepen Belajar Menulis
Biodata singkat:
Ania Maharani lahir di Jakarta, 23 Februari 1989, lalu hijrah ke Semarang sampai masa dewasanya saat ini. Penulis yang masih terus belajar menulis ini memiliki nama pena bluepen. Setelah lulus dari madrasah FKM UNDIP, penulis masih aktif menjadi asisten lab, admin bagian peminatan Epidemiologi dan Penyakit Tropik FKM UNDIP, pengajar privat dan pencinta buku. Untuk silaturahiim, bisa mengunjungi web blog penulis di www.aniamaharani.blogspot.com

Read Users' Comments (2)

2 Response to "Cerpen Non Fiksi_Audisi Penjaga Hati_IBTASIM"

  1. Lintang Senja, on 27 Oktober 2011 15.18 said:

    Subhanalloh... -_-,)

  2. An Maharani Bluepen, on 29 Oktober 2011 11.48 said:

    :")
    ayo,dek...buat cerpen jugaa

Posting Komentar

Thanks for reading
^________^

 
Free Website templateswww.seodesign.usFree Flash TemplatesRiad In FezFree joomla templatesAgence Web MarocMusic Videos OnlineFree Wordpress Themeswww.freethemes4all.comFree Blog TemplatesLast NewsFree CMS TemplatesFree CSS TemplatesSoccer Videos OnlineFree Wordpress ThemesFree CSS Templates Dreamweaver