Indahnya Cinta karena Alloh SWT


Indahnya Cinta karena Alloh Swt

Lagi-lagi bertema jambu merah..eh salah, dink..merah jambu ^^v.. Hal ini sekedar kebetulan saja, loh..coz pada awal bulan Desember selalu saja ada kajian yang membahas cinta dan wanita. Entah bertepatan dengan hari Ibu, atau menjelang pergantian tahun Hijriah dan Masehi. Semuanya diawali dengan cinta. Hyum, coba bayangin, deh, klo pergantian tahun tanpa dilapisi semangat cinta karena Rabb kita. Hati bakal terus gersang. Hidup hilang arah dan tujuan. Sebenarnya mau dikemanakankah hidup kita ini? (Ayo, nyanyi lagu Ting-ting bareng-bareng).

Setiap topik tentang cinta pasti ada ketertarikan medan magnet bagi generasi muda untuk mendalami ilmunya. Sebenarnya apa sih hukum pacaran dalam Islam? Bagaimana Islam mengatur hubungan antar pria dan wanita? Dan apakah hakikat cinta sebenarnya? Hal ini terangkum jelas dalam kajian Wisata Ruhani edisi spesial “Indahnya Cinta karena Alloh SWT” yang diselenggarakan di Masjid Kampus Undip (13/12). Pembicara keren dari Yogyakarta, Ust. Cahyadi Takariawan yang berkecimpung dalam dunia pena, konsultan pernikahan dan keluarga. Masih ingat karya buku beliau yang berjudul “Di Jalan Dakwah Aku Menikah?” :) Pembicara kedua dari seorang ibu sekaligus da’i dan dosen psikologi Undip yang sangat prestatif, Bunda Darosi. Kali ini beliau tidak membawa “Ilham bersaudara”, anak-anak beliau yang ikut berkiprah dalam dunia dakwah. Subhanallah. Kerenz. Mantap, deh buat kedua pembicara tersebut. Dengan bahasa hati, mereka mampu menyentuh hati para mahasiswa yang hadir dalam kajian ruhani ini.

Hukum Pacaran dalam Islam
Setelah otak-atik dalam mbah Google, kamus wikipedia dan kamus Besar Bahasa Indonesia, Ust. Cahyadi belum menemukan konsep jelas dari definisi pacaran (coba, deh, selidiki langsung definisi pacaran menurut KBBI) Pacaran berarti hubungan teman lawan jenis yang tetap (klo ga tetap berarti bukan pacar, dunk?)  hehe.. Ada juga yang mendefinisikan pacaran dengan bla bla...

Lantas, bagaimana hukum pacaran dalam Islam? Beliau menjelaskan bahwa hukum terikat pada hakikatnya bukan terikat pada istilah-istilahnya. Begitu banyak istilah tentang pacaran, namun masing-masing memiliki hakikat yang berbeda. Alloh menciptakan segala sesuatu berpasangan dengan aturan yang indah. Lalu, bagaimana jika berpacaran dengan pasangan hidup yang sudah jelas seperti hubungan suami isteri? Pacaran dalam Islam dibolehkan apabila hubungan kedua insan sudah dihalalkan melalui ikatan tali pernikahan. Jadi, jika sesuatu “hakikatnya” boleh menurut syariat, maka hukumnya akan diperbolehkan. Sekali lagi, hukum bukan terikat dengan istilah-istilahnya, loh. Berbeda dengan hukum riba yang sudah jelas definisinya. Hukum riba di mana dan kapanpun adalah HARAM dilakukan. Berbeda dengan hukum pacaran yang memiliki konsep definisi yang belum jelas dan tergantung kepada siapa pelakunya.

Aktivitas Maksiat dan Akibatnya

Ow..ow..lalu, aktivitas apa saja yang dilakukan oleh orang saat pacaran? Kalo sudah menikah, sih, sah-sah saja, yah. Tapi, jika belum, naudzubillahmindzalik. Saya pernah mengobservasi langsung aktivitas pacaran yang dilakukan oleh kumpulan remaja di sepanjang pantai Marina saat Minggu pagi. Dari ujung dermaga laut sampai perbatasan, terlihat pasangan muda-mudi yang tak jelas statusnya, menikmati keindahan panorama pantai berdua-duaan. Mereka menikmati dunia syahwat yang tak patut dilakukan. Ada yang berpelukan, berpegang tangan, dan saling berpandangan. Saya merasa agak syok karena mereka melakukannya di tempat terbuka tanpa ada rangsangan malu sedikitpun. Padahal, interaksi intim yang terlalu berlebihan itu bisa menimbulkan kejadian yang tidak diinginkan, seperti kehamilan di luar nikah. Apakah rasa malu mereka tertutupi oleh godaan syaithan yang merajai? Berbagai aktivitas zina pun terselimuti. Zina mata, hati, pikiran, tangan, dan kaki yang terkotori secara langsung menggerogoti keimanan dan meredupkan cahaya jiwa. Padahal, Alloh sudah jelas-jelas melarang hamba-Nya untuk tidak mendekati zina (QS 17:32). Keindahan rasa cinta bukan lagi bermuara kepada kemuliaan melainkan kenistaan semata.

Hasil studi Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) mengenai perilaku seks remaja di Indonesia menyatakan bahwa remaja merupakan kelompok risiko tinggi terhadap KTD (Kehamilan Tidak Diinginkan) serta berbagai penyakit yang ditularkan melalui hubungan seksual. Pada tahun 2000-2003, sekitar 30% dari 37.000 kasus perempuan yang mengalami KTD adalah remaja. Remaja berusia antara 15 – 24 tahun sangat rentan terhadap KTD karena mereka cenderung selalu ingin mencoba sesuatu yang baru. Berdasarkan data PKBI Semarang pada tahun 2004, hingga bulan Juni tercatat 101 kasus KTD. Mereka yang mengalami KTD berusia 10 – 24 tahun atau remaja usia SMP sampai mahasiswa. Sementara itu, kasus aborsi di Semarang mencapai dua juta kasus tiap tahunnya. Data pilar PKBI Jateng pada tahun 2010 menunjukkan dalam sebulan terdapat 8 – 10 remaja datang berkonsultasi dalam keadaan hamil. Menurut survei Komnas Perlindungan Anak di 33 Provinsi pada Januari – Juni 2008 menjelaskan 21,2 % remaja pernah melakukan aborsi. Sekitar 30% aborsi dilakukan wanita usia 15 – 24 tahun dari kalangan SMA, mahasiswa, hingga korban perkosaan.

KTD memiliki dampak yang buruk bagi kehidupan remaja maupun keluarga, sekolah dan masyarakat di sekitarnya. Remaja dengan kehamilan yang tidak diinginkan menghadapi masalah aib karena hamil tanpa nikah, merasa berdosa bila menggugurkan kandungan serta merasa tertekan bila kandungan semakin membesar. Akibat lain dari KTD yaitu risiko kematian pada kehamilan remaja 2 kali lebih tinggi. Hamil pada usia remaja sangat rentan terhadap komplikasi kehamilan dan persalinan. Bayi yang lahir dari ibu remaja cenderung lahir prematur. Ketidaksiapan orang tua menyebabkan anak ditelantarkan, kurang gizi dan kecerdasan rendah. Selain itu, menyebabkan remaja putus sekolah atau tidak mendapatkan pekerjaan layak.
Hehe...jadi berbicara lebar soal tentang KTD dan akibatnya, nih..OK. Kembali lagi ke fokus kajian cinta fitri, yah..(Loh, koq, jadi judul film?)

Cinta karena Alloh atau Manusia?
Pada awalnya, cinta itu fitrah dan indah. Namun, terasa kabur karena arus globalisasi. Rasa cinta kepada-Nya menjadi terkontaminasi oleh rangsangan aktivitas yang mengandung syahwat, terseret oleh budaya Barat yang melenceng dari norma. Interaksi yang mendalam kepada yang bukan mahram berawal dari pandangan kemudian jatuh ke jurang hati sehingga menjadi kecenderungan dan ketergantungan yang kuat kepada seseorang yang belum tentu menjadi pendamping hidupnya. Sang Ustad pun bernasihat, ”Jagalah hati dengan hati-hati karena hati itu sangat rentan untuk terkontaminasi oleh kesenangan duniawi.” Jadi teringat oleh ayat 14 surat Al Baqarah, “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diinginkan, yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allohlah Tempat kembali yang baik (surga).”

Bila kita ingin mengetahui kedudukan diri di hadapan Alloh SWT, maka tengoklah dalam hati: Bagaimana kedudukan Alloh SWT dalam hati kita? Sejauhmana kita mencintai-Nya? Jangan sampai kita mengatakan “Alloh Maha Besar” namun di dalam hati masih bersemayam sesuatu yang lebih besar dari-Nya.. “Adapun orang-orang yang beriman, sangat cinta kepada Alloh (QS 2:165).” Dari sini, diharapkan generasi muda dapat mengelola rasa cintanya, menata diri, membersihkan dan menata hatinya sehingga berujung kemuliaan dan keridhoan-Nya.

Vaksin “VMJ”
Individu bertindak sebagai aktor dalam menyikapi berbagai pilihan yang ada di dalam hidupnya. Ada yang memilih jalan kebaikan, namun tak sedikit pula yang lebih senang berada di jalan kesesatan sehingga tak mampu membedakan salah atau benar. Kesempatan bertobat masih terbentang luas bagi orang-orang yang peka terhadap datangnya hidayah. Hati yang berdebu dan terinfeksi VMJ (Virus Merah Jambu) bisa dilumpuhkan oleh Vaksin Hati yang dilapisi oleh Tazkiyatun Nafs (pembersihan jiwa). Ada trik-trik jitu yang disampaikan oleh Bunda Darosi dalam menyikapi hal tersebut; 1) perbaiki niat hati untuk selalu mencintai segala sesuatu karena Rabb, 2) perbaiki hubungan dengan Alloh, 3) jangan sering mengingatnya meski itu sulit, 4) stop dengan lagu-lagu/ film-film romantis yang mengingatkan cinta semu, 5) saling menasehati dalam kebenaran. Kalau kata Ustad Cahyadi, “Jangan memastikan sesuatu yang belum pasti. Tak ada ikatan yang suci sebelum akad nikah berlangsung. Maka, berta’aruflah dengan proses yang benar agar mendapatkan keridhoan-Nya yang hakiki.”

Siip, dah. Jangan pernah bosan untuk memperbaiki diri jika ingin mendapatkan jodoh yang baik pula. Masih ingat QS 24: 30-31?
:”)
An Maharani Bluepen
Sepotong roti cinta untukmu, Sobat..
14 Desember 2011

Read Users' Comments (2)

2 Response to "Indahnya Cinta karena Alloh SWT"

  1. Dakwah Syariah, on 14 Desember 2011 16.56 said:

    Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
    kunjungan silaturahmi baca-baca, banyak hikmah yang bisa kita petik dari artikel anda.

  2. An Maharani Bluepen, on 15 Desember 2011 09.53 said:

    wa'alaykumussalam warahmatullah wabarakatuh..
    terima kasih sudah mampir membacaaa...^^

Posting Komentar

Thanks for reading
^________^

 
Free Website templateswww.seodesign.usFree Flash TemplatesRiad In FezFree joomla templatesAgence Web MarocMusic Videos OnlineFree Wordpress Themeswww.freethemes4all.comFree Blog TemplatesLast NewsFree CMS TemplatesFree CSS TemplatesSoccer Videos OnlineFree Wordpress ThemesFree CSS Templates Dreamweaver