Kisah Burung Kecil

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
Bismillaahirrahmaanirrahiim

06 Juni 2013. Syukur tak terkira. Pagi-pagi bisa menulis pesan motivasi yang ditujukan kepada diriku sendiri, kemudian aku forwardkan ke sahabat terdekat, teman-teman yang selalu terjaga istiqomah menulisnya... Usai mengkhatamkan buku Bang A. Fuadi pagi-pagi buta kemarin, aku mendapatkan inspirasi untuk menuliskan untaian kata berikut:
"Setiap orang memiliki catatan kehidupan yang unik, lengkap, dengan solusi dan permasalahan.Hal itu akan terekam jelas apabila seseorang menuliskan lembaran hidupnya. Dalam bahasa novel, A. Fuadi mampu mendokumentasikan perjalanan hidupnya dengan baik. Khairunnas anfauhum linnas. Semoga kita bisa menjadi insan bermanfaat lewat tulisan yang dibuat. Insya Alloh, manfaat tulisan akan terus mengalir, melebihi usia penulisnya. Chiayooo... semangat menulis, teman-teman! #reminder me
Siang ini, aku mendapatkan kisah unik dari anak burung yang terdampar di warung mamaku. Sang burung kecil hinggap di tepi cucian piring-piring kotor. Entahlah, bagaimana dia bisa sampai di situ. Kicauannya sangat berisik, seolah-olah memanggil ibunya. Aku-pun terperanjat dan mengamatinya dari dekat. Mencoba berkomunikasi dengan bahasaku sendiri.

"Hei, burung kecil.. di mana indukmu?" ucapku sambil melihat reaksi wajah imutnya. Mengapa ia bisa jauh dari sarangnya? Pikiranku menerawang jauh. Kalo ini cerita fabel, aku bisa mengandai-andai, berkomunikasi dengan bahasa hewan. Tapi aku tak lihai menuangkannya dalam cerita fabel. Biarkanlah aku tulis berdasarkan versiku sendiri. 

Sang burung masih tetap berkicau tanpa henti. Timbul rasa kasihan di hatiku. Harus aku apakan burung ini? Mau ngangkat badannya, takut burungnya kesakitan. Tapi jika dibiarkan dia terus-terusan sendirian di tempat ini, kemungkinan dia tak bisa pulang ke sarang.

Aha, akhirnya aku memiliki keberanian untuk memegang burung itu dan mengangkat badannya secara hati-hati. Alhamdulillah, dia sama sekali tak berontak. Bahkan, tampil asyik bercengkerama di ujung jariku. Seandainya Mama melihat fenomena ini, beliau pasti bersorak girang. Sebelum beliau pulang sebentar ke rumah, Mama sempat melihat burung malang itu dan mendengarkan kicauannya yang berisik.

Aku menggerakkan jariku hati-hati, cengkeraman burung itu semakin kuat, seakan-akan tak mau jatuh. Hey, burung kecil, bukannya kau bisa terbang? Kenapa kau malah asyik hinggap di ujung jariku. Aku cermati wajahnya lekat-lekat dan merasakannya kalau ini bukan mimpi. Ini pertama kalinya aku memegang burung di ujung jari seperti ini.



Selanjutnya, aku mencoba keluar sebentar, melihat-lihat pohon kresen yang tumbuh lebat di samping warung Mama. Cuaca cukup terik, aku layangkan pandangan ke atas pohon kresen itu. Tak ada bayangan burung terbang di sana. Kemudian aku berkata lagi ke burung kecil itu, " Di sana sarangmu?"
Ah, dia hanya berkicau semaunya, tanpa kupaham apa maksudnya. 
"Ayo, terbang ke atas, burung kecil. Bersemangatlah."
Dia masih sibuk untuk bertahan di ujung jariku kemudian berpindah ke jaketku.

Ada seorang Ibu datang ke warung Mama, sambil mencari taksi untuk pulang. Barang bawaaannya sangat banyak dan cukup merepotkan. Lalu kami sempat mengobrol dan memperhatikan burung kecil ini bersama-sama.
"Enaknya diapain, ya, Bu. Burungnya berkicau terus."
Ibunya hanya tersenyum dan kaget saat burung kecil itu hinggap di kepala beliau.

Aku sontak kaget juga melihat aksinya terbang. Burung ini memang mencari perhatian! Rupanya ia menyembunyikan kemampuannya untuk terbang. Eits, tunggu dulu, dia hanya terbang lemah tak berdaya. Kemudian Ibu itu meletakkan kembali ke ujung jariku. Dia terlihat kelelahan dan tak mau terbang lagi. Aku mengambil inisiatif untuk mengambil sebiji buah kersen untuknya.
"Makanlah, burung kecil. Apakah kau bisa mengunyahnya?" bincangku lagi kepada burung kecil yang tak kuketahui asal muasalnya, jenisnya apa, dan alasan ia tersesat.
Reaksinya? Ia hanya terdiam memandang buah kersen bersama daun hijau di dekatnya. Langkahnya cukup hati-hati untuk berjalan di atas pagar bambu warung Mama.



Tiba-tiba dia terjatuh dari ketinggian pagar bambu yang bersekat. Aku kira ia terjepit di celah sempit pagar bambu itu. Ternyata, ia masih berjalan dan berpindah ke pasir tanah di dekatnya. Muncul seekor burung besar mendekatinya. Burung besar itu hanya sebentar saja menyapa burung kecil dan kembali hinggap di pohon kresen. Kemudian datang lagi burung besar lainnya. Kali ini cukup lama mendekati burung kecil. Apakah itu induknya? Wallahu 'alam bishowab.
Alhamdulillah, spontan kemudian, burung kecil terbang bebas mengikuti burung besar kedua itu di dedaunan liar belakang warung Mama.

Sekilas aku tak percaya apa yang aku saksikan fenomena ini. Sungguh, kejadian unik yang sangat langka, bertepatan dengan hari jadi Mama. Hey An, today Mama berusia 57 tahun! Tiga tahun lagi mencapai 60-an tahun...Meski berada di usia senja, bagiku mama masih awet muda (sepanjang masa). Hehehe.. Mama dapat bingkisan kecil dari Mbak Vita, teman Lq'ku yang super perhatian. Aih, jadi serba tak enak. Aku sebagai anak kandung belum menyiapkan apa-apa untuk hari spesial mama di hari ini. Selepas pulang Lq pagi tadi, aku hanya melengkapinya dengan bingkisan roti. Alhamdulillah, mama-pun senang menikmatinyaa.. 

Aku berpikir,
kisah burung kecil ini menjadi pesan eksplisit yang Alloh kirimkan padaku untuk selalu mencintai Mama. Di manapun, dan apapun kondisi mama kini. Aku berkewajiban untuk merawatnya, menjaganya, dan menyayanginya selayaknya beliau yang lakukan padaku selama masa kecil hingga dewasa. Jika aku sudah menikah nanti, aku berharap suamiku akan memberikan izin kepadaku untuk merawat Mama hingga akhir usianyaa..

An Maharani Bluepen
#bertepatan dengan Isra' Mi'raj jugaa

Read Users' Comments (8)

8 Response to "Kisah Burung Kecil"

  1. de ka, on 7 Juni 2013 10.56 said:

    aku merinding bacanya yang paragraaf akhir, dan "bertanya sudah memberi apa untuk ibu?" -__- hem renungan buatku juga :)

  2. Annur eL Karimah, on 7 Juni 2013 11.51 said:

    aamiin., semoga demikian harapannya. ayo suaminya mana
    ngeledek duluan teh An

  3. An Maharani Bluepen, on 7 Juni 2013 15.57 said:

    hehe.. paragraf yang mana, say?
    kayaknya ga ada kata-kata it..

  4. An Maharani Bluepen, on 7 Juni 2013 15.57 said:

    suaminya masih ngumpet.. hihi..
    *ngeledek juga

  5. Aan, on 10 Juni 2013 15.31 said:

    inspiratif. hewan-hewan yang masih kecil emang lucu tingkahnya. "Terima kasih kak An, sudah menolongku dan mempertemukan dengan mamaku. Semoga Allah memberikan balasan yang setimpal untuk kak An", kata burung kecil saat beranjak terbang...

  6. An Maharani Bluepen, on 10 Juni 2013 15.58 said:

    aamiin... :D

  7. Nurmayanti Zain, on 15 Juni 2013 21.23 said:

    ituu burungnya nggak terbang ya :) jinak~

  8. Ania Maharani, on 15 Juni 2013 22.13 said:

    iyaa.. sangat jinak, Maya-san

Posting Komentar

Thanks for reading
^________^

 
Free Website templateswww.seodesign.usFree Flash TemplatesRiad In FezFree joomla templatesAgence Web MarocMusic Videos OnlineFree Wordpress Themeswww.freethemes4all.comFree Blog TemplatesLast NewsFree CMS TemplatesFree CSS TemplatesSoccer Videos OnlineFree Wordpress ThemesFree CSS Templates Dreamweaver